Design Thinking

Otak kiri diperlukan untuk mengeksploitasi sebuah produk, begitu pula otak kanan yang berfungsi sebagai pengexplore yaitu pembuat innovasi produk. Kebanyakan otak kiri digunakan oleh seorang Engineer, yaitu orang yang dapat menjawab fungsi dari suatu produk yang akan dibuatnya. Engineer memusatkan kegunaan otak kirinya saja atau otak kiri yang sangat dominan dalam hal analitisa. Sedangkan seorang Designer adalah orang yang menjawab people desire, yang berkaitan dengan kenyamanan, kepantasan, dan  kepuasan User. Untuk itu Designer lebih menggunakan otak kanannya dalam hal kreatifitas.Bayangkanlah proses pembuatan sebuah tempat tidur!

Nah, menurut anda siapakah yang membuat tempat tidur tersebut? tukangnya (engineer)? atau yang membuat desain (designer)?  Kuncinya adalah kedua hal tersebut harus ada.  Jadi cara terbaik untuk menjawab hal itu adalah mengkombinasikan antara kreativitas dan analitis. Ini adalah New Design Thinking dengan tidak hanya melihat permukaan dari suatu masalah tetapi lebih dalam lagi yaitu konsepnya.

Dalam menggunakan Design Thinking kita harus memiliki kreatifitas yang tinggi dimana kreatifitas adalah “ability to create something”. Untuk itu kita tidak boleh takut dalam mengeluarkan pendapat. Jika kita pelajari apakah yang menjadi penyebab seseorang takut mengekspresikan ide, maka akan di dapat beberapa jawaban diantaranya adalah takut salah, takut berbeda pendapat dengan jawaban orang lain, takut jawabannya di bajak oleh orang lain, merasa idenya jelek, dan lain-lain.

Design Thinking adalah suatu pemikiran  yang dipakai oleh banyak orang kaya. Mereka berusaha melawan asumsi-asumsi yang dibuat oleh diri mereka sendiri. Misalnya saja pendiri Teh Botol Sosro, Pak Sosrodjojo. Sekitar 40 tahun yang lalu Pak Sosrodjojo melakukan terobosan untuk membuat Teh dalam botol, lalu dijual olehnya. Pada tahun-tahun awal ternyata banyak sekali yang menyangkal ide tersebut bahkan ada yang mencemooh dan menertawainya.  Tetapi berdasarkan keyakinannya bahwa ide ini adalah ide yag baik dan juga berdasarkan riset pasarnya. Maka ia berhasil mengalahkan asumsi-asumsi yang dibuat olehnya sendiri dan oleh lingkungannya. Sehingga ia menjadi sukses.

Hal ini di contek oleh Pak Tirto Utomo, yang dulu menjabat sebagai level atas manejemen di Pertamina. Tetapi ia keluar dari Pertamina dan membuat sebuah bisnis yang dulu mungkin banyak yang bilang ini adalah bisnis konyol. Karena Pak Tirto Utomo lebih malas lagi dibandingkan dengan Pak Sosrodjojo yaitu dengan hanya memasukan air putih kedalam botol dan lalu dijualnya. Lagi-lagi, Orang yang sekarang ini sangat sukses, dulunya berusaha melawan asumsi-asumsi yang telah ada yang dapat mengendurkan semangat kerja dan kreatifitas mereka. Mereka tidak peduli dengan gengsinya, dan apa kata orang disekitarnya. Mereka percaya dengan kreatifitas dan analisisnya sendiri. Orang-orang sukses  juga menggunakan Design Thinking dalam melihat berbagai case dengan multiple perception yaitu dilihat dari berbagai sudut pandang dan dapat breaking  rule, assumption, and olden perception.

Well, the process to make Design Thinking are :

  1. Observe, adalah bagian dari creative thinking, karena dalam Design Thinking ada 2 bagian, Creative and Analysis. Dalam observasi kita harus datang langsung bertemu dengan User, catat quotes yang penting dan gunakan pendekatan emosi agar kita bisa mendalami case tersebut. Dan catat detail dari wawancara, who,what,where, and when?
  2. Sinthesize, adalah bagian dari Analysis dalam Design Thinking. Tujuannya adalah untuk mencarai Unstated needs. Jadi sebenarnya, Design thinking adalah memberikan inovasi yang tidak dipikirkan oleh orang, untuk kebutuhan yang juga tidak dinyatakan secara langsung oleh Orang. Untuk itu diperlukan analisa yang sangat tajam tentang sebab akibat.
  3. Brainstorming, adalah proses keluarnya semua ide. Dalam tahap ini, tidak diperkenankan untuk mengkritik ide orang dan setiap ada ide baru ditulis dan ditempelkan. Biasanya The Better Idea adalah yang banyak ditertawakan dan di ceng-cengin 😀
  4. Vote, setelah semua ide keluar dan di catat maka dari sekian banyak ide, hanya dipakai satu ide yang terbaik. Proses pemilihan 1 ide tersebut adalah proses voting, yang mana bukan mempermasalahkan tentang benar atau salahnya ide atau jelek tidaknya. Tetapi menggunakan rumus 1T 3 M (trust, mudah, meriah, murah) dan diseleksi menggunakan Desire (ketertarikan orang), Viable (secara ekonomis), dan Feasible ( Teknologinya). Ini juga termasuk dalam bagian Analysis
  5. Prototype, adalah proses pembuatan produk sementara yang sangat mendekati produk aslinya. Fungsinya adalah untuk mnegetahui experience secara langsung. Dievaluasi dan diperbaiki lagi.  Pada bagian ini menggunakan pendekatan creative.
  6. Story tell, adalah Analysis terakhir dalam hal Design Thinking yaitu dengan memberikan cerita untuk hasil dari Design Thinking. Cerita tersebut kebanyakan berupa fiksi dan menjadi legenda dalam perusahaan itu. Jika diimplementasikan pada brand, maka akan membuat perusahaan sustain dan dapat meningkatkan desirable orang untuk membeli product.

Design Thinking dapat diaplikasikan oleh businessman, Policy maker, kehidupan sehari-hari, dan lain-lain. Seorang businessman yang menggunkan design thinking akan lebih dapat melihat uang yang mengalir didepan matanya. Dengan Design Thinking ini dapat menghasilkan suatu produk baru, bisnis model baru, kebijakan perusahaan , inovasi, dan lain-lain.

Design Thinking mengajarkan untuk mengetahui konsepnya bukan hanya dari apa yang terlihat. Jad i kita harus menggunakan multiple perception yaitu melihat suatu benda dari berbagai sudut pandang. Sebagai contoh adalah hubungan antara  Board markers and Apple.

Dengan kita memberi nama suatu produk (di Implementasikan pada brand) dengan menggunakan pendekatan Design Thinking pada Board Market menjadi Apple. lalu kita membuat Story tell-nya. Ini akan membuat perusahaan tersebut sustain. Story Tell kenapa Board Markers itu bernama  Apple yaitu karena Board Marker mempunyai hubungan sebagai Buah apel. Buah apel adalah makanan yang mengandung banyak vitamin yang sangat di perlukan oleh tubuh. Buah apel memang bukan untuk di konsumsi secara banyak atau berlebihan, tidak seperti nasi yang menjadi kebutuhan pokok makanan di Indonesia. Tetapi dengan tidak adanya buah apel maka kita akan mengalami kekurangan vitamin dan dapat membuat tubuh kita menjadi  sakit.

Hal ini serupa dengan spidol dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, yang terpenting adalah adanya guru dan murid serta materi yang diajarkan. Spidol adalah pendukung dalam proses belajar mengajar, tetapi dengan adanya spidol maka proses tersebut semakin berjalan dengan lancar. Ilmu yang ditransfer juga semakain mudah di transfer. Tetapi dengan tidak adanya spidol maka proses belajar mengajar akan menjadi terhambat, dan bahkan terhenti apabila tintanya habis.

Nah, sekarang kita dapat mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang cukup significant antara Innovation & Design Class (yang baru saja kita bahas diatas) dengan Traditional Business Strategy Class (conventional).

  • Traditional Strategy : menggunakan Rational & Objective, berdasarkan data-data quantitative yaang sudah terjadi di market. Jawaban hanya ada yang paling baik, dengan planning yang baik, logic&numerical model, dan fokus pada 1 konsep.
  • Innovation&Design : menggunakan Subjective experiment, Reality as socially constructed, Jawaban yang lebih baik, kalo salah coba lagi dan lagi, di kerjakan dulu bukan planning, emotion model, dan ada berbagai konsep, tidak hanya 1 konsep.

 

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: